19 April 2011

Studi Kritis Masyarakat Modern

| |
(Tulisan ini masih berupa draf, sehingga tidak layak di kutip)

Masyarakat modern, masyarakat yang anonym. Tak jelas. Tak punya identitas yang ajek. Demikian adanya, sebab masyarakat modern adalah masyarakat yang hidup dalam orientasi “kekinian”. Menampik masa lalu. Kekinian berarti tak ada tempat bagi masa lampau, semuanya serba bergantian untuk masuk dalam ruang yang tetap, tetapi sekaligus harus meleset dikarenakan waktu menjadi penentu apa yang sekarang dan apa yang sudah melewati “ke-serengan-an. Jika sesuatu dalam keadaan tetap maka ia dalam waktu senantiasa berubah. Karena itulah pada saat kita hendak merujuk pada kenyataan tentang masyarakat modern, maka dalam waktu seketika identitas mereka telah melebur pada kehampaan. Maka menjadi kekinian berarti menjadi sesuatu yang bukan kini dan sekarang, melainkan menjadi yang “tak jelas”.

Fenomena pathologi, kesenjangan kelas, rasionalitas instrumental, positivism logis, atomistic-mekanik, konflik social, anomaly, universalisme ilmu, individualitas yang akut, kolektivisme semu, serta beragam perihal yang bermunculan pada masyarakat modern. Sedikit banyaknya telah meluberkan arus perkembangan masyarakat pada tingkatan yang begitu kompleks serta keserampangan hidup yang diproduksi berdasarkan hubungannya yang tak tentu. Masyarakat modern ditentukan dari pola hubungannya yang selalu diasosiasikan pada economizing yang menyebabkan rusaknya tatanan alamiah pada saat manusia melakukan kontak satu sama lainnya. Dengan adanya hal ini, berefek terhadap berubah totalnya batasan-batasan cultur, hilangnya etnisitas, berubah totalnya struktur sosial, hilangnya lokalitas dan menghancurnya elemen dasar manusia.

Munculnya kebudayaan kontemporer yang sifatnya hybrid disinyalir kehadirannya bersesuaian dengan  semangat modernitas yang ditiupkan dari tanah eropa, tentunya pada aspek kebudayaan yang ditenggarai oleh tumbuhnya semangat pencerahan mengikut sertakan pandangan dunia dan pranata-pranatanya yang berkembang dan dianut oleh masyarakatnya. Secara historis perubahan ini disulut oleh abad pencerahan dan segala penemuan yang ditemukan pada masanya. Penyebaran kebudayaan ini mengakibatkan universalisasi pada seluruh tatanan secara falsafati ke segenap penjuru dunia.


Menurut Brian turner, modernitas adalah dampak dari proses modernisasi, yang mana dunia social berada dibawah dominasi estetisme, sekularisasi, klaim universal tentang rasionalitas instrumental, diferensiasi berbagai lapangan kehidupan manusia, birokratisasi ekonomi, praktik-praktik politik dan militer, serta moneterisasi nilai-nilai yang sedang berkembang.1  oleh karena itu, modernitas yang melahirkan masyarakat modern lahir bersamaan dengan imperialisme gaya baru.

Imperialisme gaya baru adalah bentuk penindasan kontemporer dimana dengan menggunakan dalil-dalil yang terdapat pada wacana globalisasi menyebabakan terjadinya perubahan cultural secara drastis pada negara-negara yang menjadi daerah jajahannya. Dalam prosesnya, selain perkembangan kapitalisme global, terjadinya penjajahan cultural di sebabkan dengan turut terlibatnya perusahaan media internasional yang memanfaatkan media informasi dan komunikasi untuk membentuk suatu model masyarakat baru dan identitas yang seragam. Ketika hal ini terjadi, dengan adanya media informasi yang bergerak dengan cepat dari satu tempat ketempat lainnya akan berdampak besar dengan  menghilangnya aspek lokalitas pada daerah-daerah yang sebelumnya memiliki system nlai yang berbeda dari system nilai yang daianut dari paham barat.

Sejumlah pemikir social menilai bahwa proses tersebut telah mendorong bangkitnya kultur global yang semakin homogen dengan adanya nilai-nilai “anglo-amerika”. Dengan menyebut difusi global nilai-nilai amerika, barang-barang konsumsi dan gaya hidup sebagai westernesasi. Kedatangan suatu model hidup dengan gaya baru, di istilahkan oleh sosiolog amerika George Ritzer dengan sebutan “Mcdonalisasi” untuk menyebut sebuah kenyataan yang terjadi pada masyarakat kontemporer terutama pada pelayanan yang memberikan efesiensi makanan cepat saji. Menurutnya pada permukaan tampak rasional tetapi dengan menggejalanya dampak-dampak praktis secara global model pelayanan ini, menyebabkan  dampak irasionalitas pada masyarakat kontemporer.2

Dengan hilangnya batas-batas geografis dan waktu, maka modernism dengan globalisme sebagai agenda global untuk mengintervensi nilai-nilai cultural, pada kenyataannya memberikan sikap kepada masyarakat untuk diimulasi berdasarkan daya pemakmanaannya terhadap persentuhannya dengan dunia yang telah mengalami proses pemaknaan ulang lewat media dengan menciptakan symbol-simbol baru mennyebabkan pergesekan pada tingkatan di lapangan . Akibat pergesekan ini maka melahirkan produk manusia yang hybrid atau kreolisasi yang mengekpresikan identatasnya pada cara model hidup, music, kesenian, dunai film, siytem bahasa serta pada ekspresi symbol-simbol lainnya.

Maka yang terjadi pada Negara-negara dunia ketiga yang berada pada proses talik ulur antara membendung atau hendak menerima suatu model kebudayaan baru secara  sosiologis melahirkan apa yang penulis istilahkan imitasi dalam aspek cultural.

Imitasi kebudayaan Modern; Kehilangan Identitas
Dunia dengan perkembangan teknologi dan media informasi dan komunikasi yang tinggi, Barat memproklamirkan dirinya sebagai spectrum yang darinya segala penjuru mata dunia berkiblat kepadanya. Maka dengan begitu, barat dengan jaringan kekuasaan medianya telah menyulap dunia menjadi wajah yang dirias berdasarkan keinginannya. Akhirnya proses imitasi pun terjadi pada dunia-dunia yang mencontohi barat sebagai model kehidupan yang ideal.

Imitasi kebudayaan adalah proses peniruan suatu tampilan kebudayaan yang dianggap telah ideal dengan beserta gugusan nilai-nilai dasarnya untuk diterapkan pula pada arena kebudayaan tertentu yang masih tertinggal jauh dari model kebudayaan yang ditirunya.

Imitasi kebudayaan yang dicaplok itu terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja. Misalnya kebudayaan pembangunan rumah-rumah dengan arsitektur bergaya baron,  kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan masakan siap saji serta banyak lainnya diamana semuanya artifisial, tak ada hubungan sejarah maupun batin.

Kebudayaan Modern imitasi hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan semakin kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita, kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.

Anak kebudayaan Modern imitasi ini adalah konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blasteran ini, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh. Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu, akan tetapi kita semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena makanan bergaya fast food itu dianggap gayanya manusia yang trendy, dan trendy adalah modern.  Model kehidupan semacam ini sudah menjadi hal yang lumrah ditengah-tengah kita dikarenkan tuntutan hidup yang begitu besar. Masyarakat sekarang adalah masyarakat yang terpesialisasi dalam peran-peran social yang menjadi sangat spesifik, sehingga menuntut untuk mobile berdasarkan peran-perannya yang ditopang dengan asas efisiensi, maksimalisasi dan perhitungan untung rugi dengan dorongan rasionalitas instrumental seperti apa yang di gagaskan oleh Jurgen Habermas.

Menurut Habermas, dunia sekarang telah tumbuh system social yang semakin rumit, dibedakan dipadukan, dan dikarakterkan dengan nalar instrumental.3 ini akan menyebabkan suatu masyarakat yang berlimpahan materi yang dikontrol atas dasar buah dari rasionalitasnya sendiri. Pada situasi inilah manusia tercerabut dari kesadarannya dan menemukan dirinya berada pada dunia benda-benda dengan benda-benda yang menjadi control atasnya. Maka dunia  sekarang telah membawa manusianya pada sebuah arena dimana manusianya membunuh dirinya sendiri secara pelan-pelan dengan cara yang tak dia sadari sendiri.[]

1. Brian Turner, Teori-teori Sosial; Modern dan Postmodern, hal, 188
2. George Ritzer-Douglas j. Goodman, Teori Sosiologi  Modern, hal.565
3. George Ritzer,Teori Sosial Postmodern, hal. 254


Almanak