14 Januari 2011

Tentang Kampus ; Sondang

| |
Kampus; bangunan yang  di dalamnya terpampag serta berdiri tugu-tugu petanda, di mana ilmu pengetahuan kerap datang dengan gadang-gadang masa depan, sesuatu yang diusahakan berdasarkan kehendak; perihal tentang masa akhir hidup manusia beserta kesejahteraannya.  Kampus dan ilmu pengetahuan memang dua hal yang berbeda rupa, namun pada tepiannya terkadang menjanjikan satu hal; pencerahan, dan pencerahan pasti dan tentu ia akan memiliki isyarat untuk mencerahkan. Namun tugu-tugu pasti memiliki momennya. Ia  bisa berarti jika telah silam, jika manusia telah jauh meninggalkan masa yang kekinian, untuk memberikan sejumlah bobot nilai bagi yang telah lalu. 

Memang yang namanya tugu ataupun artefak hanya mengisyaratkan waktu yang telah lampau. Tugu mengabadikan momen untuk dikenang, namun tak semua yang abadi bisa berarti hal yang bisa diterima, sebab keabadian terkadang memasygulkan satu ketetapan, stagnasi. Dan di sinilah mungkin persoalannya, pencerahan bisa berhadap-hadap dengan satu sisi yang menjadi kebalikannya, stagnasi yang punya kemiripan dengan kondisi yang tak dalam keadaan terang; gelap gulita, di mana tak sedikit pun ilmu mau berbarengan dengannya, sebab petanda stagnasi bisa bermakna tak memiliki kebaruan, tak punya ilmu.

Mungkin itulah pencerahan terkadang butuh sesuatu hal yang harus menjadi taruhannya di mana waktu biasanya harus berbalikan dengan semakin tercerahkannya manusia dengan umur yang dimilikinya, sebab maklumat ilmu pengetahuan memanglah perihal yang membuat manusia meningglkan ruang taksa yang anonim dalam dirinya yang bisa menubuatkan kejumudan. Karena kegelapan selalu tak punya kuasa mengarahkan seseorang untuk dapat mengenali objek yang hendak dikenalinya. Maka ilmu membutuhkan kuasa yang ingin melakukan ketercerahan diri. Dan manusia punya kebebasan, daya yang bisa ia tarik untuk memilih perihal-perihal  dari berbagai kemungkinan untuk dipastikan dan Sondang memilih meninggalkan ruang taksa, ruang yang gelap dan tak miliki kejelasan, yang tak mesti ditinggali berlama-lama.


Entah apa yang mendorong Sondang, mahasiswa keluaran dua ribu tujuh serta Munir sebagai inspirasinya harus bakar diri di depan gedung tinggi besar putih dengan symposium kekuasaan yang berkelindan didalamnya; istana Negara. Tetapi satu ihwal yang di imaninya, yakni apa yang melingkupinya sebagai sebuah sistem besar, yang membentuk surut dan naik harapan berjuta-juta masyarakat yang ada didalamnya, tak punya identitas mengenai petanda akan datangnya sebuah harapan, sebab sistem yang ia saksikan, berkelindan di dalamnya benang yang kusut. Maka apa yang di lakukannya adalah mengambil jalan ekstrim, memotong tepat  pada salah satu alur helai benang yang kusut.

Ia datang untuk menggelar suatu protes, terhadap perkara kekuasaan yang hipokrit. Mungkin saja Sondang resah, jenuh dan bisa jadi ia marah sejadi-jadinya, dari keadaan yang jumud dimana-mana, samsara yang melanda bangsanya. Mungkin sondang memilih cara lain, sebab di negeri maling pasti kekuasaan dicuri dimana-mana, termasuk daulat yang dimiliki rakyatnya, maka sondang tak memiliki bahasa yang harus tersampaikan lewat jalur yang mandeg, demokrasi yang setengah hati hingga rela hati dikebiri. Ia memilih bakar diri dimana suara-suara baginya telah sumbang dan banal, dan api bisa datang sebagai simbol ketercerahan dari gulita yang ia rasakan.

Sondang telah wafat, tiga hari setelah ia bakar diri. Tak ada yang tahu, tak ada yang jelas. Ia telah pergi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak ia berikan. Namun satu hal yang pasti ia meninggalkan satu ruang untuk diberikan makna bagi siapa saja yang mengenalnya. Ia punya pesan, warta yang ia pilih untuk tak dibahasakan sendiri olehnya, karena bahasa bisa saja menjadi hal yang identik dengan kekuasaan, datang dengan memelintir makna menjadi sekehendak hati yang punya kuasa. Ia memilih diam, sebab bahasa yang telah terkatakan bisa berbalik menjadi hal yang mengontrol, membentuk bagi si penutur bahasa, dan bisa jadi tak mampu dipertanggung jawabkan, namun diam bukan berarti tak miliki bahasa, sebab bahasa tak mesti dikatakan, bahasa di dalam hati adalah bahasa yang tak terkatakan, karena tak terkatakannyalah, kitalah yang menguasai.

Sondang bukanlah penduduk yang mau saja dibodohi dengan janji-janji politik, sebab ia tahu, ia sekaligus paham bahwa politik tak mesti menjual kata, membangun citra lewat ekplanasi-eksplanasi yang telah direncanakan berdasarkan pertimbangan untung rugi kekuasaan. Sebab ia tahu apa yang telah terkatakan bukan untuk di terjemahkan berdasarkan pertanggung jawaban data-data, melainkan kerja nyata. Dan karena ia seorang mahasiswa, identitas yang ia geluti selama hampir sebahagian hidupnya, punya sederet keyakinan bahwa, pengabdian bukan untuk berkali-kali dikatakan, mealinkan cukup sekali, setelah itu bertindak, maka ia jalani keyakinan itu, bahkan ia melampaui mahasasiswa pada umumnya, ia ingin berbeda. Dan ia bertindak tegas.

Tentang tindakan, bisa menjadi substratum bagi aktifitas. Dan aktifitas biasanya menuntut adanya kebebasan. Dan setidaknya Sondang menjadi orang yang tak ingin dikekang. Pada titik ini, sondang menjadi bagian dari suara yang telah lama dikulum. Suara yang haram bagi konteks kenegaraan yang menuntut stabilitas. Dan stabilitas pada kamus kehidupan sehari-hari pada Negara yang memasung kebebasan adalah petanda mutlak berdirinya otoritas. Maka sondang menjadi beda dari apa yang tak pernah ia katakana, namun melalui tindakan ia berbahasa.

Tatal 7. Senin 12 januari 2011. Menjelang siang